• Mei 20, 2024

‘Neverkusen’ Jadi ‘Neverlusen’! Perjalanan Xabi Alonso Berikan Bundesliga Perdana Untuk Bayer Leverkusen Tanpa Terkalahkan

Xabi Alonso baru saja mengukir sejarah, menyulap regu yang berkubang di zona degradasi menjadi juara tak terkalahkan dalam kurun 18 bulan!

Reiner Calmund, mantan direktur olahraga Bayer Leverkusen, pernah berkata bahwa di dunia sepakbola yang kejam dan tak kenal ampun ini, “Kalian tak ada harganya tanpa sebuah gelar.” Ironisnya, timnya tak punya. Mereka pun punya slot qris gacor julukan di Jerman: ‘Vizekusen’, yang secara harfiah berarti ‘Kusen Si Kedua’. Melainkan, di skala global, Bayer lebih diketahui dengan julukan ‘Neverkusen’, pesakitan abadi sepakbola Jerman, yang rasa-rasanya dikutuk tak dapat lepas dari masa lalu yang memilukan.

Dalam kurun enam musim semenjak milenia baru, Leverkusen finis sebagai runner-up empat kali. Pada 2000, mereka buang gelar yang sudah dalam rengkuhan meski cuma memerlukan hasil imbang di pekan pemungkas, melawan SpVgg Unterhaching, klub yang namanya lebih diketahui atas prestasinya di cabang bobsleigh (kereta selusur). Dua tahun kemudian, pada 2001/02, Bayer kembali libas di bawah tekanan, kalah dua kali di tiga laga terakhir sehingga gelar Bundesliga menjadi milik Borussia Dortmund.

Melainkan, nestapa Leverkusen tak selesai di sana. Hanya sepekan setelah patah hati di liga, mereka dikalahkan Schalke 4-2 di final DFB-Pokal. Empat hari bersela, Bayer dikalahkan Real Madrid di final Liga Champions, menjadi korban gol magis Zinedine Zidane.

Klaus Toppmoller, manajer Die Werkself dikala itu, menyiapkan pesta anggur dan cerutu setelah secara mengejutkan menumbangkan Manchester United di semi-final. Melainkan di final di Glasgow, pesta hal yang demikian berubah menjadi mimpi buruk setelah regu hebat berisikan pemain-pemain besar seperti Lucio, Michael Ballack, dan Ze Roberto wajib menutup musim dengan tangan kosong. Sebuah penderitaan yang paripurna.

“Aku berbangga atas apa yang kami capai musim ini, melainkan kami bermain dengan betul-betul keras dan rasanya sakit sekali wajib berakhir tanpa hasil,” katanya terhadap wartawan. “Kekecewaannya besar sekali – di sepakbola, Anda memang tak selalu menerima ganjaran yang sesuai Anda peroleh, dan tak ada yang lebih tahu soal itu dari kami setelah apa yang kami lalui. Apa yang terjadi susah untuk diterima dan membuat kami merasa pahit.”