• November 2, 2022

Polri Buat Aturan Khusus Untuk Pengemanan Kompetisi Olahraga

Analis Kebijakan Madya bidang Operasi Sops Polri Kombes Pol Tri Admodjo Marawasianto berkata bahwa Polri membuat Peraturan Kepolisian atau Perpol mengenai pengamanan kompetisi olahraga di Indonesia supaya tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, tak terulang lagi.

“Saat ini telah selesai sinkronisasi dan harmonisasi di tingkat Kemenkunham. Perpol tersebut telah selesai dan mengatur terkait regulasi keamanan dan keselamatan pertandingan.” Kata Tri Admodjo, di unggah dalam laman PSSI, Senin 31 Oktober.

Pernyataan tersebut di sampaikan oleh Tri mix parlay Amodjo di dalam rapat Satuan Tugas atau Satgas Transformasi Sepak Bola Indonesia. Yang di gelar di kantor PSSI, Jakarta, Senin 31 Oktober.

Polri Buat Aturan Khusus Untuk Pengemanan Kompetisi Olahraga

Pertemuan yang di pimpin oleh Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan tersebut di hadiri oleh Manajer Proyek FIFA untuk regional Asia Oseania Niko Nhouvannasak, Koordinator FIFA untuk Asia Timur dan Regional ASEAN Chen Jin, perwakilan Kemenkes, Kemendagri, KemenPUPD dan Polri yang mengutus Tri Admodjo Marawasianto.

Ini menjadi rapat kedua Satgas tersebut setelah yang pertama di laksanakan di tanggal 21 Oktober 2022. Menurut Mochamad Iriawan, ada perkembangan yang baik dari hari ke hari mengenai pekerjaan Satgas tersebut.

“Setiap elemen sudah ada progres yang baik dan nantinya hasil ini akan kami sampaikan ke Presiden Joko Widodo. Tentu FIFA dan AFC sangat mendukung. PSSI berharap kami dapat selesai sesuai time line yang telah di buat .” Kata dia.

Satgas Transformasi Sepak Bola Indonesia bertugas untuk menemukan rumusan tentang tata kelola sepak bola di Indonesia, menyinkronkan peran juga tanggung jawab dari setiap pemangku kepentingan sepak bola (mulai dari PSSI, pemerintah dan kepolisian, sampai klub peserta dan penonton), memperbaiki manajemen infrastruktur, pengamanan dan penyelamatan, manajemen kerumunan, manajemen penonton serta edukasi sepak bola.

Rumusan tersebut nantinya akan menjadi acuan pelaksanaan laga-laga sepak bola di Indonesia agar peristiwa berdarah di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 135 orang dan melukai ratusan lainnya tidak terjadi lagi.